Merapi yang memuntahkan lahar n menembakkan wedhus gembel memangs angat dahsyat. Banyak korban jiwa. Seperti manusia,rumah, sapi n kawan kawannya juga gak luput dari keganasan gunung berapi itu. Rakyat Indonesia saling membantu n juga mendoakan atas kejadian itu. Mungkin bangsa sapi di seluruh Indonesia atau luar negeri atau bahkan luar galaxi juga ikut berdoa mungkin ya. Sambil mengirim bantuan rumput segar untuk para sapi yang kehilangan tempat tinggal. Tapi sapi lebih mempunyai niat yang baik, karena sapi gak korupsi bantuan seperti manusia yang masih saja memanfaatkan itu sebagai lahan rezeki.
18 Desember 2010 aku ma temen temen kost pergi ke daerah bukit pasir yang tak lain adalah sebuah daerah yang terpendam oleh pasir merapi. Berangkat pagi dengan guide Bapak n Ibu kost kita berangkat naik motor. Perjalanan dari kostku gak jauh amat seh, deket juga enggak juga. Kita mengendarai motor secara berurutan ke belakang seperti kampanye partai politik. Bedanya kampanye ini gak dibayar sama para calon wakil rakyat yang pinter banget ngegombalin rakyat. Karena aku ma temen kost gak tau jalan jadi selalu buntutin bapak kost kemanapun dia menapaki jalan. Saat berhenti di jalan, aku ngira dah sampai tapi parkirnya di jalan. Ternyata salah, bapak kost nanya jalan ke orang. Ternyata memang itu resiko bawa guide gratisan. Sampai juga di lokasi pertama, aku lupa nama daerahnya tapi disini yang terlihat batu besar banget n lebih besar dari aku pastinya. Padahal aku dah ngerasa besar, ternyata ada yang lebih besar dari chasingku. Batu itu ngehalangi jembatang yang terhubung antara 2 desa. Terlihat juga pasir yang masih mengepulkan asap, mungkin di bawah pasir ada semut yang ge camping n ngadain pesta api unggun sambil nyanyi aku juga gak tau. Aku jalan jalan sama temen temen buat ngeliat keadaan sekitar yang cukup memprihatinkan. Terlihat dari kejauhan bapak kost ma ibu kost ge berduaan. Mungkin mereka lagi bernostalgia tentang masa lalu mereka saat pacaran di tempat itu sambil makan kacang rebus sama minum beer. Habis itu ada preman yang ganggu Ibu kost n bapak kost yang kebanyakan beer menghajar preman itu dengan jurus mabuk.
Setelah selesai di lokasi pertama, kita lanjut di lokasi kedua. Disini lebih ke arah mendekati merapi. Saat lagi memandang tanah luas yang terhampar pasir itu, datang seorang laki laki yang belum begitu tua tapi aku yakin kalo dia dah gak perjaka karena sepertinya dah berkeluarga. “dibawah sini kemaren itu kampung pak” ucapnya. Buset dah pikirku, tanah yang luas n pasir yang luas ini ternyata dibawahnya dulu adalah rumah warga. Trus tu bapak bapak bilang lagi “yang di bawah sana itu rumah saya Pak, tapi sudah terpendam pasir” ucapnya penuh kasian sambil menunjuk ke arah sebuah gundukan pasir. “yang sabar ya Mas, pasti ada hikmah dari kejadian ini” ucapku penuh kedewasaan. “betul banget itu Mas” kata bapak kostku yang duduk di atas batu sambil make kaca mata hitam n juga didampingi istri tercintanya yang berdiri di belakangnya. Gak lama kemudian datang 1 keluarga baru yang nampaknya juga mau ngeliat lokasi korban merapi ini. Dengan suara yang PD bapak kostku ngajak ngobrol ma kepala keluarga itu “disini dulu tu kampung Pak, tapi terpendam pasir. Ini salah satu korbannya Pak” sambil menunjuk Mas mas korban merapi itu. “rumah masnya yang mana?” tanya keluarga itu. “yang sebelah sana Pak” jawab bapak kostku sambil nunjuk ke gundukan pasir. Pikirku ma temen temen sangat heran, tu keluarga kan nanya ma korban, tapi yang jawab malah bapak kostku. Tapi memang begitulah sifat bapak kostku. Sok tau n kadang menganggap masalah kecil menjadi di besar besarkan.
Tujuan akhir kita adalah ke daerah dengan radius 6km dari puncak merapi. Lebih memprihatinkan daerah di sini, karena rumah hancur n hampir semua tenggelam oleh pasir. Banyak banget orang orang yang melihat keadaan disini. Benar benar gak bisa dibayangin gimana waktu lahar dingin menghantam kampung ini. Gak tau juga apa ada korban atau enggak di daerah ini. Dari sini memang sangat dekat sekali dengan puncak merapi. Aku harus bersyukur karena Alhamdulilah daerah tempat tinggalku di Magelang n juga kostku hanya diberi hujan pasir, bukan muntahan lahar dingin. Tapi kita sebagai manusia harus saling membantu jika terjadi bencana di pihak lain. Bukan malah memanfaatkan keadaan untuk kepentingan sendiri. Hidup itu memang gak sendiri, kita harus mau membantu orang lain apabila kita juga ingin dibantu orang lain apabila kita sedang ada masalah. Selalu tolong menolong akan meringankan beban setiap orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar